Senin, 23 Maret 2015

Demokrasi (Tugas 1 PKn)



DEMOKRASI
A.      Pengertian Demokrasi
Secara entimologis, kata ‘demokrasi’ berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani Kuno yang muncul pada awal abad ke-5 SM, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan atau kedaulatan, sehingga dapat dikatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan rakyat (lebih dikenal dengan istilah ‘pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’) atau dapat juga diartikan kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.
 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), demokrasi merupakan istilah politik yang berarti pemerintahan rakyat. Hal itu dapat diartikan bahwa dalam sebuah negara demokrasi kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh rakyat atau wakil-wakil yang dipilih (oleh rakyat) di bawah sebuah sistem pemilihan bebas.
Sedangkan dalam pandangan Abraham Lincoln, demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya, rakyat memiliki kebebasan untuk melakukan semua aktifitas kehidupan termasuk aktifitas politik tanpa adanya tekanan dan tuntutan dari pihak manapun, karena pada hakekatnya yang berkuasa atau yang memiliki kedaulatan tertinggi adalah rakyat untuk kepentingan bersama.
Dengan demikian sebagai sebuah konsep politik, demokrasi merupakan landasan dalam menata sistem pemerintahan negara yang terus berproses ke arah yang lebih baik dimana dalam proses tersebut rakyat diberi peran yang sangat penting dalam menentukan atau memutuskan berbagai hal yang menyangkut kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa dan negara.
Demokrasi dan kebebasan sering dipakai secara timbale balik, namun keduanya tidak sama. Sebagai suatu konsep, demokrasi adalah seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan yang juga mencakup seperangkat praktik yang terbenuk melalui sejarah dan sering melalui proses yang berliku-liku. Demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan. Artinya, kebebasan yang dimiliki rakyat diatur dan diarahkan oleh sebuah lembaga kekuasaan yang sumber kekuasaannya berasal dari rakyat, sehingga kebebasan yang dimiliki oleh rakyat dapat dilaksanakan secara bertanggung jawab dan juga memperhatikan kebebasan yang dimiliki orang lain, serta tidak melanggarnya.
Prinsip Demokrasi menurut Henry B. Mayo sebagaimana dikutip oleh Miriam Budiarjo dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Ilmu Politik (2008: 118-119) adalah:
1.       Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga.
2.       Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat yang sedang berubah.
3.       Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur.
4.       Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum.
5.       Mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman.
6.       Menjamin tegaknya keadilan.
Kemudian, menurut Alamudi sebagaimana dikutip oleh Sri Wuryan dan Syaifullah dalam bukunya yang berjudul Ilmu Kewarganegaraan (2006: 84), suatu negara dapat dikatakan berbudaya demokrasi apabila memiliki soko guru demokrasi sebagai berikut:
1.       Kedaulatan rakyat.
2.       Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah.
3.       Kekuasaan mayoritas.
4.       Hak-hak minoritas.
5.       Jaminan HAM.
6.       Pemilihan yang bebas dan jujur.
7.       Persamaan di depan hukum.
8.       Proses hukum yang wajar.
9.       Pembatasan pemerintahan secara konstitusional.
10.   Pluralism sosial, ekonomi dan politik.
11.   Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama dan mufakat.

B.      Proses Demokrasi
Proses Demokrasi merupakan suatu cara dalam mewujudkan suatu sistem pemerintahan yg seluruh rakyatnya turut serta memerintah melalaui wakilnya mereka di DPR, sekaligus menciptakan suatu gagasan atau pandangan hidup yg mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yg sama bagi semua warga negara.
Demokratisasi adalah proses mengimplementasikan demokrasi sebagai sistem politik dalam kehidupan bernegara. Miriam Budiarjo menyatakan bahwa dalam sistem politik demokrasi perlu dibentuk lembaga-lembaga demokrasi untuk melaksanakan nilai-nilai demokrasi. Contoh lembaga demokrasi adalah pemerintah, partai politik, pers, dewan perwakilan rakyat, dan lembaga peradilan.
Demokrasi memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1.       Proses perubahan yang bersifat damai.
Demokrasi dilakukan secara damai, tidak melalui jalan kekerasan dan di bawah ancaman. Demokrasi berjalan dengan cara musyawarah sehingga perbedaan-perbedaan yang ada diselesaikan dengan musyawarah bukan dengan kekerasan. Jika cara kekerasan yang dipakai, tentu akan timbul anarki.
2.       Proses perubahan yang bersifat evolusioner
Demokratisasi tidak dilakukan dengan cepat dan revolusioner karena cara yang cepat dan revolusioner justru dapat menggagalkan demokratisasi. Jadi, demokratisasi dilakukan secara pelan, perlahan, bagian demi bagian, dan berlangsung lama.
3.       Proses perubahan yang tidak pernah selesai
Untuk menjadi negara demokrasi, usaha itu harus melalui proses yang terus-menerus, bertahap, dan berkesinambungan. Negara juga berusaha untuk memenuhi dan melengkapi agar hal itu sesuai dengan ciri-ciri negara demokrasi.

Proses demokratisasi di Indonesia
Demokratisasi yang terjadi di Indonesia dapat dikatakan hadir setelah orde baru berakahir. Munculnya tuntutan reformasi terhadap pemerintahan juga dibarengi dengan tuntutan demokratisasi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Adanya tuntutan seperti itu dikarenakan selama masa orde baru yang mengatasnamakan pemerintahannya sebagai “Demokrasi Pancasila” hanyalah sebuah kemasan luar, dalam prosesnya pemerintah orde baru mengkebiri kebebasan berekspresi, berkumpul dan mengeluarkan pendapat yang hal itu merupakan ciri dari demokrasi.
Pasca jatuhnya rezim orde baru proses pemerintahan berlangsung secara perlahan menuju ke demokratis. Adanya perubahan pola pemerintahan dari sentralistis ke arah yang desentralistis setidaknya memberi kesempatan awal dalam proses demokratisasi yang ada di Indonesia. Tata cara pemerintahan ke arah yang lebih demokratis juga diikuti oleh perubahan di bidang lain. Perubahan-perubahan kerangka kelembagaan lainnya, seperti adanya sistem multipartai, pelaksanaan pemilu yang relatif lebih demokratis, adanya pers yang bebas, dan upaya menjadikan birokrasi dan militer sebagai kekuatan profesional tetapi netral secara politik (Marijan, Kacung 2012: 1)
Gelombang demokratisasi itu muncul juga didukung dengan perubahan tata cara kepemiluan dan sistem kepartain. Munculnya perubahan di dalam sistem kepartain dan sistem pemilu itu, paling tidak, telah membuka ruang yang lebih besar kepada warga negara untuk terlibat lebih aktif di arena politik (Marijan, Kacung 2012: 2). Memang dimasa orde baru juga terdapat pemilu, tapi dapat dikatakan tidak demokratis karena pemenangnya sudah diatur oleh pemerintah itu sendiri. Pemilu yang diselenggarakan pasca setahun kejatuhannya yaitu pemilu di masa reformasi pada tahun 1999, mendapatkan animo yang sangat besar dari masyrakat Indonesia pada waktu itu. Dalam pemilu tersebut partai politik yang pada zaman orde baru hanya tiga partai politik, kemudian jumlah pesertanya membludak menjadi 48 partai politik. Partisipasi masyarakat dalam pemilu tersebut sebagai penanda keterbukaan saluran politik yang selama ini sangat dibatasi.
Tolak ukur berdemokrasi sebenarnya tidak hanya diukur melalui pemilu saja. Ada komponen-komponen lain yang mendukung proses berdemokrasi tersebut. Pelembagaan sistem politik yang demokratis  pasca reformasi juga menunjukkan proses demokratisasi yang ada di Indonesia. Tata cara pemerintahan dapat dikatakan sangat terbuka terhadap masyrakat. Adanya kebebasan dalam megeluarkan pendapat dan juga berkspersi, serta media massa yang independen membuat proses demokratisasi yang ada di Indonesia semakin menuju ke arah yang lebih baik.

C.      Pengertian Sistem Pemerintahan Negara
Kata sistem berasal dari bahasa inggris, yaitu system  yang artinya suatu kesuluruhan yang terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional. Sedangkan kata ‘pemerintahan’ awalnya berasal dari kata ‘pemerintah’. Pemerintah merupakan seperangkat alat negara yang dapat menetapkan aturan dan memiliki kuasa untuk memerintah. Pemerintahan dalam arti luas adalah lembaga-lembaga negara yang menjalankan segala tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif, legislative ataupun yudikatif dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara. Sedangkan dalam arti sempit, pemerintahan adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh lembaga eksekutif beserta jajarannya dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara.
Sistem pemerintahan diartikan sebagai tatanan yang terdiri dari komponen pemerintahan yang saling mempengaruhi dalam pencapaian tujuan dan fungsi pemerintahan. Selain itu, sistem pemerintahan dapat juga diartikan sebagai susunan yang teratur dari prinsip-prinsip yang melandasi berbagai kegiatan atau hubungan kerja antar Legislatif, Eksekutif, Yudikatif dalam menyelenggarakan pemerintahan atau negara.
a.       Arti luas
Sistem pemerintahan adalah suatu struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak pada hubungan antar semua organ negara baik pemerintah pusat maupun daerah.
b.      Arti sempit
Sistem pemerintahan adalah  suatu struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak pada hubungan antar sebagian organ negara khususnya tingkat pusat yaitu eksekutif dan legislatif.
c.       Arti paling luas
sistem pemerintahan adalah suatu struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak pada hubungan antar negara dan rakyat.
Sistem pemerintahan adalah sistem yang dimiliki suatu negara dalam mengatur pemerintahannya. Setiap negara memiliki sistem pemerintahan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi negara masing-masing. Macam-macam sistem pemerintahan diantaranya adalah:
1. Parlmenter
2. Presidensial
3. Semi-Presidensial
4. Komunis
5. Demokrasi Generous
6. Generous

D.      Perkembangan Pendidikan Bela Negara
Pembelaan negara atau bela negara adalah tekad, sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air serta kesadaran hidup berbangsa dan bernegara.
Bagi warga negara Indonesia, usaha pembelaan negara dilandasi oleh kecintaan pada tanah air (wilayah Nusantara) dan kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia dengan keyakinan pada Pancasila sebagai dasar negara serta berpijak pada UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Wujud dari usaha bela negara adalah kesiapan dan kerelaan setiap warganegara untuk berkorban demi mempertahankan kemerdekaan kedaulatan negara, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, keutuhan wilayah Nusantara dan yuridiksi nasional serta nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Maksud dan Tujuan Pendidikan Bela Negara:
Usaha pembelaan negara bertumpu pada kesadaran setiap warga negara akan hak dan kewajibannya. Kesadaran demikian perlu ditumbuhkan melalui proses motivasi untuk mencintai tanah air dan untuk ikut serta dalam pembelaan negara. Proses motivasi untuk membela negara dan bangsa akan berhasil jika setiap warga memahami keunggulan dan kelebihan negara dan bangsanya. Di samping itu setiap warga negara hendaknya juga memahami kemungkinan segala macam ancaman terhadap eksistensi bangsa dan negara Indonesia.
Dalam hal ini ada beberapa dasar pemikiran yang dijadikan sebagai bahan motivasi setiap warganegara untuk ikut serta membela negara Indonesia:
1.       Pengalaman sejarah perjuangan RI, dimana para pendahulu berjuang mati-matian mengusir penjajah dan membebaskan Indonesia dari keterpurukan. Tentu saja sekarang tidak ada sat orang-pun yang menginginkan Indonesia kembali ke masa-masa itu.
2.       Kedudukan wilayah geografis Nusantara yang strategis, yang menyebabkan Indonesia merupakan salah satu destinasi yang dapat dengan mudah diakses dari seluruh dunia.
3.       Keadaan penduduk (demografis) yang besar dan tersebar di berbagai pulau.
4.       Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia. Baik dalam bidang pertambangan, perkebunan/pertanian, maupun perikanan (mengingat Indonesia adalah negara Maritim yang sebagian besar wilayahnya adalah laut yang memiliki kekayaan bahari yang sangat melimpah).
5.       Perkembangan dan kemajuan IPTEK di bidang persenjataan
6.       Kemungkinan timbulnya bencana perang.\
Perkembangan Pendidikan Bela Negara
Situasi NKRI terbagi menjadi beberapa periode:
·         Tahun 1945 sejak NKRI diproklamasikan sampai tahun 1965 disebut periode lama atau Orde Lama
·         Tahun 1965 sampai tahun 1998 disebut periode baru atau Orde Baru.
·         Tahun 1998 sampai sekarang disebut periode Reformasi
Perbedaan periode tersebut terletak pada hakikat yang dihadapi. Pada periode lama bentuk yang dihadapi adalah “ancaman fisik” berupa pemberontakan dari dalam maupun ancaman fisik dari luar oleh tentara sekutu, tentara kolonial Belanda, dan tentara Dai Nippon. Sedang periode baru dan periode reformasi bentuk yang dihadapi adalah “tantangan” yang sering berubah sesuai dengan perkembangan kemajuan zaman. Perkembangan kemajuan zaman ini, mempengaruhi perilaku bangsa dengan tuntutan-tuntutan hak yang lebih banyak. Pada situasi ini yang dihadapi adalah tantangan nonfisik, yaitu tantangan pengaruh global dan gejolak sosial.
Pada periode lama, bentuk ancaman yang dihadapi adalah ancaman fisik. Contoh: adanya PPPR (Pendidikan Pendahuluan Perlawanan Rakyat), OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat), OKD (Organisasi Keamanan Desa), OKS (Organisasi Keamanan Sekolah). Dilihat dari kepentingannya, tentunya pola pendidikan yang diselenggarakan akan terarah pada fisik, teknik, taktik dan strategi kemiliteran.
Sedangkan pada masa orde baru dan masa reformasi, bentuk ancaman yang dihadapi berupa tantangan nonfisik dan gejolak sosial. Untuk mewujudkan bela negara dalam berbagai aspek kehidupan, pertama-tama perlu dibuat rumusan tujuan bela negara.
E.       Hubungan Demokrasi dengan Pemerintahan
Demokrasi adalah salah satu bentuk Pemerintahan dimana dalam pemerintahan ini rakyatlah yang memegang kedaulatan tertinggi dan merupakan pusat dari suatu negara. Rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan Negara sekaligus sebagai tujuan kekuasaan Negara. Oleh karena itulah rakyat merupakan paradigma sentral kekuasaan negara.

F.       Contoh Kasus Nyata Masalah Demokrasi di Indonesia
Contoh kasus nyata masalah demokrasi di Indonesia salah satunya adalah yang berhubungan dengan Lembaga Pemerintahan Negara dan Partai Politik. Pada masa-masa sekarang ini dapat terlihat jelas bahwa kinerja dari lembaga-lembaga pemerintahan dan partai politik yang ada semakin buruk. Hal ini dapat dilihat dari:
·         Semakin banyaknya wakil rakyat yang lalai dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat, contohnya dengan maraknya kegiatan korupsi, kolusi dan nepotisme.
·         Kurangnya perhatian dari lembaga perwakilan terhadap rakyat karena didominasi oleh kepentingan partai saja.
·         Partai politik dijadikan alat yang dapat digunakan untuk menambah kekuatan seorang penguasa yang mengatasnamakan rakyat untuk memperoleh kekuasaan tersebut.
·         Agenda dan program partai politik belum memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat.
Dari keempat poin diatas dapat disimpulkan bahwa Indonesia mengalami masalah demokrasi yang cukup serius. Pada hakekatnya, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, dimana pelaksanaannya dalam pemerintahan berarti rakyat memiliki kewenangan untuk memilih wakil-wakil rakyat melalui pemilu yang nantinya dapat menampung segala aspirasi dari rakyat dan bukan untuk melakukan penyelewengan kekuasaan.



Source
https://sakauhendro.wordpress.com/demokrasi-dan-politik/pengertian-demokrasi/
https://utarikusuma.wordpress.com/2012/03/22/sistem-pemerintahan-negara/
http://siskasridahlia.blogspot.com/2012/12/pengertian-sistem-pemerintahan-bentuk.html
http://sistempemerintahanindonesia.com/
http://mohammad-darry-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-99785-Demokrasi%20dan%20Demokratisasi-Proses%20Demokratisasi%20di%20Indonesia.html
http://www.bambanghariyanto.com/2013/10/apa-itu-pendidikan-pendahuluan-bela-negara.html
http://demokrasi-diindonesia.blogspot.com/2014/01/hubungan-demokrasi-dengan-bentuk.html
https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20111103181008AAMzGGM




Minggu, 18 Januari 2015

IBD IV

Tugas IV IBD
A.      MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

B.      MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

1.       Pengertian Tanggung Jawab, Pengabdian, Kesadaran dan Pengorbanan
Pengertian Tanggung Jawab
                Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya, sehingga bertanggung jawab berarti berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab dan menanggung akibtnya. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
                Tanggung jawab adalah cirri bahwa manusia adalah makhluk yang berbudaya. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu dan menyadari pula bahwa pihak lain akan memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Unuk memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan taqwa kepada Tuhan.
                Tanggung jawab dibagi menjadi tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap masyarakat, tanggung jawab terhadap bangsa dan negara, dan yang paling penting adalah tanggung jawab kepada Tuhan.
                Wujud tanggung jawab itu sendiri dapat berupa pengabdian dan pengorbanan.

Pengabdian
                Pengabdian adalah erbuatan baik yang berua pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas.
Pengabdian pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kehidupan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.
                Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia wajib mengabdi kepada-Nya. Pengabdia berarti penyerahan diri sepenuhnya dan itu merupakan perwujudan tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pengorbanan
                Pengorbanan berasalah dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingg pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang berisfat kebaktian itu mengandung unsure keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu pemberian yang didasarkan pada kesadaran moral yang tulus ikhlas.
                Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas. Karena adanya pengabdian perarti ada pengorbanan. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, waktu dan bahkan pengorbanan jiwa. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa adanya satu perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.

2.       Makna Cita-cita, Kebajikan, Sikap Hidup dan Pandangan Hidup
Cita-cita
Cita cita adalah suatu impian atau keinginan terbesar dari dalam diri kita sendiri yang mungkin sudah kita impikan sejak kecil dan juga bisa dari mimpi kita sendiri yang bisa membawa kita kedalam kesuksesan di suatu saat nanti.

Kebajikan
Kebajikan adalah pola pemikiran dan tingkah laku yang berdasarkan standar moral yang tinggi. Kebajikan itu sendiri yang membawa kita kedalam pribadi diri kita ke yang jauh lebih baik dan juga dapat mendekatkan diri kepada tuham yang maha esa.

Sikap Hidup
Sikap hidup adalah suatu keadaan hati untuk menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau yang negative.

Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan suau keadaan seseorang dalam memikirkan sesuatu yang akan terjadi dalam kedepannya bisa juga seseorang memandang bagaimana kehidupan kesusessannya dimasa mendatang. Untuk melakukan dan membuktikan apakah impiannya bisa terwujud.

Tulisan IV IBD
CONTOH-CONTOH CERITA PENDEK YANG MEMILIKI KAITAN ANTARA MANUSIA DENGAN TANGGUNG JAWAB SERTA MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP.
               

Kisah Tanggung Jawab Seorang Anak

Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 

1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luarbiasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China. Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi 

oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggung 

jawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat. ZhangDa Merawat Papanya yang Sakit. Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua diakerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari. Zhang 

Da menyuntik sendiri papanya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik. Aku Mau Mama Kembali. Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, 

pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap. Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan 

papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat kata belece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.

PENGARANG : REZA DICKY ARFIAN

HUBUNGAN MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP : 

Bai Fang Li si Orang Miskin yang Kaya 

Namanya BAI FANG LI, orang miskin yang pekerjaannya adalah tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Bai Fang Li melalang di jalanan, di atas becaknya 

untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam. Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya. Bai Fang Li tinggal 

disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Bai Fang Li biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, 

lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang. Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan. Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya 

disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada. Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia 

mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu. Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” tanya 

Bai Fang Li. “Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu. Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan 

sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan. Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh 

semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan. Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang 

tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang. Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya. “Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua. 

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan….,” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis…. Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin. Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ”Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

PENGARANG : WIRA MIATY

Manusia dan Pandangan Hidup

CITA-CITA KU

Pagi yang mendung  tapi hujan tak kunjung datang , angin menerpa tubuh mungil Nana yang sedang berjalan menuju sekolahnya .

“huuchh , dingin banget !”kata Nana

Nana adalah gadis kecil yang mungil , dia tinggal bersama nenek dan kakeknya dipondok kecil diujung kampung karang .

Orangtua Nana pergi merantau dinegeri seberang dan sampai sekarang belum juga datang .

Nana gadis mungil itu belum pernah melihat sosok sang ibu atau pun sang bapak , dari kecil ia sudah hidup bersama nenek dan kakeknya .

Sekarang nenek dan kakeknya sudah sangat tua .

 nenek Nana sekarang sakit , neneknya tidak bisa melihat lagi seperti orang normal .

Nana merasa iba melihat mereka yang sudah tidak mampu lagi dalam mencari uang untuk sesuap nasi .

Dan sekarang Nana lah yang membantu nenek dan kakek mencari uang , Nana membantu mpok Zainab membuat kue dan mengantarkannya kewarung-warung , sedangkan kakeknya hanya bekerja sebagai penjahit sepatu .

Jadi perekonomian keluarga mereka sangat minim .

Tapi meskipun mereka hidup pas-pasan mereka tidak pernah mengeluh apalagi menyerah , Nana gadis kecil itu tetap semangat untuk sekolah dan ingin mewujudkan cita-citanya dan ingin membahagiakan nenek dan kakeknya .

Nana termasuk anak yang cerdas dan sopan , ia selalu dapat peringkat pertama dikelas .

Nenek dan kakek cukup bangga dengan cucunya yang satu ini , meskipun Nana sibuk membantu mpok Zainab membuat kue tapi itu sama sekali tidak mengganggu sekolah dan belajarnya .

Sepulang sekolah biasanya Nana langsung pergi kerumah mpok Zainab untuk mengantar kue dan malamnya Nana membantunya membuat kue untuk diantar besok siang .

Tidak ada waktu malam Nana untuk belajar .

Nana belajar waktu subuh setelah selesai solat subuh , karena baginya belajar subuh itu yang paling baik .

Nana ingin sekali menyembuh kan mata neneknya , supaya nenek bisa melihat seperti biasa , maka dari itu Nana ingin sekali menjadi dokter spesialis mata yang handal yang bisa membantu menyembuhkan mata nenek .

Mulai dari sekarang Nana tekun belajar tidak pernah mengeluh untuk mencapai cita-citanya yang mungkin sebagian orang bilang lumayan sulit.

 Sumber :